Agloco Indonesia

Get graphics at Nackvision.com

March 22, 2007

Bush-Congress Showdown Is a Goldilocks Tale

Filed under: internasional

By Chitra Ragavan
Posted 3/21/07

President Bush’s assertion of executive privilege in the U.S. attorney firings has a lot in common with Goldilocks and the Three Bears.

The president said yesterday unequivocally that while he is willing to provide Congress with documents and behind-closed-doors conversations with his top political and legal advisers over the firing of eight U.S. attorneys, having them testify under oath in public could compromise his right to obtain “candid advice” for the sake of a “partisan fishing expedition.” The response from Democrats was immediate: “I don’t accept his offer,” said Sen. Patrick Leahy, the Vermont Democrat who heads the Senate Judiciary Committee.
The showdown may seem more like a political nightmare than a children’s fairy tale about a little girl getting lost in the woods, where she finds a cottage belonging to three bears of varying proportions and helps herself to their food and beds. But legal scholars say that in invoking executive privilege, the president has just embarked on a long constitutionally orchestrated dance of accommodation, just as Goldilocks did, to find a compromise that’s neither too big nor too small but just right.

In other words, the Founding Fathers visualized precisely what in modern times might seem like either showboating by a Congress eager for that attention-getting image of senior White House officials grilled under oath in the klieg lights or grandstanding by a president under fire. Under the principle of separation of powers, the president has a right to withhold “confidential executive deliberations” and provide only what is legitimately needed with minimum intrusion on that executive privilege.

“It’s really required by court decisions in this area,” says former National Security Council lawyer Bryan Cunningham, “that you take these baby steps–that even if you ultimately wind up allowing greater access than had been allowed before, you only do that after you’ve exhausted all your other options.”

But that dance of accommodation can be hard to choreograph because, as the hungry and sleepy Goldilocks found on that warm pleasant day in that far-off country, size is entirely relative to who you are. Until now, the Bush administration has aggressively provided as little information as possible to Congress in part because of the strongly held views of Vice President Cheney’s former legal adviser and now chief of staff, David Addington, who has in the past played a central role in triggering or prolonging past political logjams of this nature.

That’s most likely one reason why White House Counsel Fred Fielding had to tell Congress last week that he needed more time to reach a decision on whether to provide sworn testimony of Bush’s top political and legal advisers. He would have had to fight for a middle ground as to what to hold and what to fold that would be acceptable to the administration’s top legal brains.

Every compromise extracts a price– usually it’s a measure of self-perceived pride and dignity. But what is gained is something that you otherwise would not have at all. And that applies to the executive privilege dance as well. Giving up as little as possible at first and then giving a little more, and more, and more, can be extraordinarily politically damaging, says Cunningham, but in the long run protects fundamental constitutional principles. Those who have had knock-down, drag-out fights with this administration over its invoking of executive privilege, say that Bush’s lawyers have been willing to pay that steep price tag in order to prevent legal precedents that could be damaging to future presidencies.

HIPNOTIS MODERN MURNI TEKNIK ILMIAH

Filed under: Lain Lain

Hipnotis sudah ada sejak jaman kuno

Hipnotis berasal dari kata “hypnos” yang berarti tidur. Dalam pengertian awam, hipnotis bermakna luas. Yaitu, kekuatan magis yang dapat membuat orang lain tunduk dan tertidur.

Istilah hipnotis disinggung dalam tafsir Alquran Surat Al-Qalam : 51 “Dan sesungguhnya orang-orang kafir itu benar-benar hampir menggelincirkan kamu (Muhammad) dengan pandangan mereka, tatkala mereka mendengar Alquran…

Peristiwa ini dapat disimak dalam tafsir Jalalain oleh Imam Jalaluddin Abdurrahman As-Suyuthi, dengan kalimat : Dengan pandangan yang kuat, hingga hampir memingsankan dan menjatuhkan dari tempatmu, tetapi Allah menolong. Yang dimaksud “memandang” bukanlah pandangan kagum, melainkan pandangan tajam memancarkan kebencian. Aktivitas itu pada zaman sekarang disebut dengan istilah hipnotis.

Ilmu “ketajaman mata” ini pada zaman Nabi Muhammad SAW banyak dikuasai oleh Bani Asad. Dengan puasa 3 hari, mereka dapat langsung menidurkan dan membuat kaku hewan dan manusia.

Tapi apakah “kekuatan” sebagaimana dikuasai Bani Asad, yang digali melalui jalur supranatural itu dapat disebut hipnotis sebagaimana yang dipelajari para cendekiawan atau kalangan medis? Tentu saja tidak! Argumentasinya adalah :

Peristiwa yang menimpa Nabi SAW terjadi tahun 630 M. Sedangkan Hipnotis modern baru dikenal pada awal tahun 1800 M. (selang waktu 1170 tahun).

Magis “kekuatan mata” yang marak di tahun 1800-an itu digali melalui jalur irrasional.

Hipnotis modern bersifat teknik, skill, ilmiah dan bertumpu pada sugesti, sedangkan hipnotis tradisional bersifat magis dan bertumpu pada kekuatan energi.

Kesimpulannya, antara hipnotis tradisional (magis) tidak terkait dengan hipnotis modern. Dengan demikian, anggapan bahwa hipnotis modern itu sebagai magis adalah anggapan yang salah dan tidak mendasar.

HIPNOTIS MODERN

Hipnotis modern dikembangkan oleh dr. Frans Anton Mesmer pada abad 18. Prinsip kerja hipnotis, membawa subyek (sasaran hipnotis) dari gelombang otak beta (sadar) menuju kondisi rileks dan “tidur” (Alpha – Theta). Dalam kondisi ini, seseorang lebih mudah menerima perintah (sugesti

Teknik merubah gelombang otak itu disebut induksi, dilakukan dengan berbagai cara, misalnya dengan pendulum, tatapan mata, teknik napas, verbal (kata-kata) atau sentuhan pada bagian tubuh tertentu. Prinsipnya, seseorang dalam kondisi terhipnotis, otak depannya yang berfungsi untuk berpikir dan menolak itu dinon aktif sehingga hanya bisa menerima perintah saja.

Karena itu, dalam tayangan televisi dapat disaksikan orang menurut saja saat disuruh melakukan hal-hal ganjil, semisal, menggunakan sepatu untuk menelpon, dan setelah disadar dari pengaruh hipnotis, ia pun malu dengan apa yang baru dilakukannya.

HIPNOTIS UNTUK TERAPI

Dalam kondisi terhipnotis, seseorang mudah diisi program pada alam bawah sadarnya. Ini yang kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan terapi, dari berbagai kasus kejiwaan, seperti :

Mengurangi stres.

Mengendalikan berat badan (dengan merubah pola makan).

Problem emosi : Stres, cemas, takut (phobia), dendam, menghapus memori negativ masa lalu (korban kekerasan/perkosaan,dll).

Menghentikan kebiasaan buruk : Narkoba, merokok, judi, sikap lamban, malas, pemalu, gagap, menggigit-gigit kuku, belanja, dll.

Problem : Seks, makan dan tidur (sulit/berlebihan).

Meningkatkan prestasi : Belajar, olah raga, bisnis, kreatifitas.

Mengurangi nyeri (cabut gigi, sunat, operasi kecil, melahirkan) dll.

Catatan: Untuk kepentingan terapi, penerapan hipnotis dapat dikombinasi dengan pendekatan spiritual (psikorelegius) dengah hasil yang lebih efektif.

HIPNOTIS PANGGUNG

Kunci dari hipnotis adalah menarik subyek (sasaran hipnotis) diawali dengan pra induksi, yaitu menarik mereka masuk dalam areal sugesti juru hipnotisnya, hingga timbul sebuah keyakinan dan kepercayaan. Jika pra induksi itu berhasil, pada tahap selanjutnya hipnotis akan lebih mudah dilakukan.

Anda tentu sering menyaksikan tayangan hipnotis (khususnya hipnotis panggung untuk hiburan) di berbagai televisi. Tayangan itu mengesankan hipnotis sangat mudah dilakukan. Misalnya, hanya dengan “menarik tangan” atau “gerakan jari” saja sudah mampu membuat subyek tertidur dan mengikuti perintah juru hipnotisnya.

Benarkah demikian? Jawabnya adalah: Bisa YA bisa pula TIDAK. Kenapa? Apakah itu berarti televisi membodohi pemirsanya dengan menampilkan adegan yang sudah direkayasa

Perlu diketahui bahwa apa yang Anda saksikan di televisi itu adalah sebuah adegan yang sudah melalui proses editing. Adegan yang gagal dibuang. Atau dengan kata lain, yang ditayangkan itu adalah adegan yang berhasil saja

Untuk menguasai hipnotis panggung, kunci utamanya adalah pengetahuan dan pengalaman praktek. Artinya seseorang yang sering melakukan percobaan hipnotis pada umumnya makin memahami kondisi dan kelemahan subjek yang akan dihipnotis. Rasa percaya diri pun akan timbul dan tidak mustahil bila Anda sering melakukan praktek hipnotis, Anda akn menemukan teknik berkomunikasi yang efektif untuk mempengaruhi subjek agar menurut.

Rekayasa hipnotis entertainmen dapat dilakukan dengan berbagai cara. Yang disebut “rekayasa sehat” itu dilakukan dengan menggunakan subyek murni dari orang lain yang tidak dikenalnya, semisal pengunjung disebuah pusat perbelanjaan, terminal dsb.

Sedangkan cara yang “tidak sehat” adalah menyusupkan orang-orang yang sebelumnya sudah dilatih menerima sugesti/perintah lalu menyamar sebagai orang yang seolah-olah tidak dikenal juru hipnotisnya

Dalam memberikan pelatihan hipnotis, kami cenderung memilih cara yang sportif. Yaitu, memilih subyek yang benar-benar berasal dari kalangan peserta pelatihan walau dengan risiko kurang maksimal atau bahkan gagal. Terkecuali untuk demo yang memiliki risiko tinggi, semisal menusuk tubuh, diperlukan subyek terlatih. Tapi terkadang dari 10 peserta pelatihan itu terdapat 1 dan 2 yang langsung mampu melakukan adegan yang tergolong berisiko. Tapi seorang instruktur harus menjaga kredibelitasnya dengan berterus terang pada peserta pelatihan

Hipnotis yang berhasil ditentukan dari kemampuan juru hipnotisnya dalam memilih calon “korban”. Teknik-teknik mendeteksi itu dapat dilakukan dengan mengajak peserta melakukan relaksasi massal dan berlatih menerima sugesti dengan main visualisasi.

Teknik mendeteksi calon “korban” itu ada dalam materi pelatihan kami. Sedangkan kemampuan seseorang dalam hipnotis yang bersifat entertainmen, ditentukan dari kebiasaan dan kecerdasan imajinasinya.

Prinsipnya, dalam keadaan terhipnotis itu, subyek mengikuti apa yang diperintahkan juru hipnotisnya. Apakah dijadikan penyanyi, monyet, kodok, cow boy dan sebagainya.

Laga Sevilla-Spurs Tetap di Pekan Paskah

Filed under: sepak bola

Salomo Sihombing - detikSport

Nyon - UEFA akhirnya menolak permohonan Sevilla untuk mengganti jadwal perempatfinal Piala UEFA melawan Tottenham Hotspurs. Laga tetap akan dimainkan di pekan Paskah.

UEFA menegaskan keputusannya ini lewat situs resminya, Kamis (23/3/2007). Ternyata tidak hanya Sevilla, beberapa tuan rumah Piala UEFA lainnya juga menginginkan hal serupa.

Dengan penolakan ini, Sevilla akan tetap menjamu Spurs, 5 April (6 April dini hari WIB). Sementara leg kedua akan digelar seminggu kemudian di markas Spurs, White Hart Lane.

Kota Seville memiliki tradisi menyambut Paskah dengan mengadakan festival selama sepekan yang disebut Pekan Suci. Sementara pertandingan Sevilla vs Spurs tepat di malam Jumat Agung.

Lippi Bantah Segera Tangani Chelsea

Filed under: sepak bola

Mohammad Yanuar Firdaus - detikSport

Roma - Rumor seputaran karir Marcello Lippi kembali muncul. Namun allenatore yang membawa Italia juara dunia 2006 itu langsung membantah setelah ia dikabarkan segera melatih Chelsea.

Adalah La Gazzetta dello Sport yang mengklaim Lippi bakal meneruskan karirnya bersama The Blues. Tidak tanggung-tanggung, harian terkenal Italia itu juga mengungkapkan Gianluca Vialli akan menjadi asisten pelatih Lippi.

Sayangnya kenyataan yang ada tidak sesuai dengan pemberitaan La Gazzetta dello Sport. Lippi menegaskan bahwa berita tersebut hanya isapan jempol.

“Itu semua hanya rumor dan saya banyak sekali mendengarnya,” ujar Lippi seperti dilansir Football Italia, Kamis (22/3/2007).

“Kenyataannya saya belum sama sekali menerima tawaran dari tim Italia, hanya dari tim luar negeri saja dan Chelsea bukan salah satu dari mereka,” tambahnya.

Lippi mengungkapkan bahwa faktor bahasa menjadi pertimbangan utama untuk menentukan kelanjutan karirnya. Ia pun menegaskan bahwa sebisa mungkin tidak berkiprah di negara lain selain Italia.

Namun demikian bukan berarti Lippi sudah menentukan tim mana yang bakal ditanganinya tahun ini. Mantan pelatih Juventus itu menyatakan masih betah beristirahat.

“Saya menikmati waktu saya, saya tidak kangen kembali bekerja dan sepertinya saya tidak akan memulai pekerjaan baru di tahun ini,” tutur Lippi.

Inggris Andalkan ‘Roy Keane’

Filed under: sepak bola

Kris Fathoni W - detikSport

Tel Aviv - Menghadapi Israel di kualifikasi Euro 2008, sangat penting bagi Inggris memetik tiga angka. Untuk itu, di lini tengah yang jadi sektor penting, mereka akan mengandalkan “Roy Keane”.

Keane adalah seorang legenda hidup gelandang tangguh, baik di timnas Irlandia maupun saat membela Manchester United. Jelas suatu kebanggaan bagi Owen Hargreaves yang disanjung pelatih Inggris, Steve McClaren, layaknya Roy Keane yang mampu jadi pemersatu rekannya di lapangan.

“Keane adalah pemain penting dalam 10 tahun terakhir. Dibanding-bandingkan dengan pemain sekelas dia sangatlah fantastis. Tapi walau kami berposisi sama, kami tidaklah identik,” sahut Hargreaves dilansir The Sun, Kamis (22/3/2007).

Melawan Israel merupakan partai krusial bagi Three Lions. Kalau ingin menjaga peluang lolos ke Swis dan Austria tahun depan, kemenangan mutlak diraih saat melawat ke Israel.

Banyak kalangan masih meragukan racikan McClaren dalam membesut Inggris. Apalagi kini lini belakang tim St.George Cross dibekap cedera beberapa pemainnya. Namun Hargreaves tetap optimistis Inggris bisa memetik sukses.

“Kalau di belakang Anda ada JT (John Terry) dan Rio (Ferdinand) plus dua full back, mereka akan sangat meringankan pekerjaan Anda. Belum lagi ditambah operan-operan bagus yang akan diberikan JT dan Rio dari belakang,” puji Hargreaves.

Selain lini belakang, masih tersisa kekhawatiran mengenai lini tengah Inggris. Banyak yang menganggap Frank Lampard dan Steven Gerrard tidak bisa berpadu bersama, sehingga salah satunya harus dikesampingkan.

Apalagi keduanya belum kunjung memberikan yang terbaik bagi timnas, sebagaimana di klubnya. Namun bagi Hargreaves keduanya tetaplah pemain mumpuni. “Stevie G dan Lamps sangatlah fleksibel dan memiliki teknik yang sangat baik serta piawai dalam mencetak gol,” tandas dia.

Untuk mengejar tiga poin, bisa jadi McClaren akan sekaligus menurunkan Lampard-Gerrard-Hargreaves, dimana sang “Roy Keane Inggris” akan menjadi penyeimbang dan –seperti kata McClaren– pemersatu tim.

Layakkah pujian itu? Kita nantikan saja aksi Hargreaves di lapangan hijau nanti


eXTReMe Tracker [Valid RSS] Text Link Ads
Add to Technorati Favorites  Subscribe in a reader Introducing the SlashMySearch.com Search N Earn Program. Get paid to use our search engine. Join now for free! Your Ad Here stats count click