<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
>

<channel>
	<title>Agloco Indonesia</title>
	<link>http://aglocoindonesia.blogsome.com</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 23:01:41 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>
	<language>en</language>

		<item>
		<title>Kartini</title>
		<link>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/25/kartini/</link>
		<comments>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/25/kartini/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 25 Apr 2007 23:01:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>berita</category>
		<guid>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/25/kartini/</guid>
		<description><![CDATA[	Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (Jepara, 21 April 1879 - Rembang, 17 September 1904), adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Raden Adjeng Kartini atau sebenarnya lebih tepat disebut Raden Ayu Kartini, (Jepara, 21 April 1879 - Rembang, 17 September 1904), adalah seorang tokoh Jawa dan Pahlawan Nasional Indonesia. Kartini dikenal sebagai pelopor kebangkitan perempuan pribumi.<br />
Raden Adjeng Kartini adalah seseorang dari kalangan priyayi atau kelas bangsawan Jawa, putri Raden Mas Sosroningrat, bupati Jepara. Beliau putri R.M. Sosroningrat dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Kala itu poligami adalah suatu hal yang biasa.</p>
	<p>Kartini lahir dari keluarga ningrat Jawa. Ayahnya, R.M.A.A Sosroningrat, pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Teluwakur, Jepara. Peraturan Kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Ajeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.</p>
	<p>Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Beliau adalah keturunan keluarga yang cerdas. Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat bupati dalam usia 25 tahun. Kakak Kartini, Sosrokartono, adalah seorang yang pintar dalam bidang bahasa.</p>
	<p>Sampai usia 12 tahun, Kartini diperbolehkan bersekolah di ELS (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda. Tetapi setelah usia 12 tahun, ia harus tinggal di rumah karena sudah bisa dipingit.</p>
	<p>Karena Kartini bisa berbahasa Belanda, maka di rumah ia mulai belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi yang berasal dari Belanda. Salah satunya adalah Rosa Abendanon yang banyak mendukungnya. Dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa, Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, dimana kondisi sosial saat itu perempuan pribumi berada pada status sosial yang rendah.</p>
	<p>Kartini banyak membaca surat kabar Semarang De Locomotief yang diasuh Pieter Brooshooft, ia juga menerima leestrommel (paket majalah yang diedarkan toko buku kepada langganan). Di antaranya terdapat majalah kebudayaan dan ilmu pengetahuan yang cukup berat, juga ada majalah wanita Belanda De Hollandsche Lelie. Kartini pun kemudian beberapa kali mengirimkan tulisannya dan dimuat di De Hollandsche Lelie. Dari surat-suratnya tampak Kartini membaca apa saja dengan penuh perhatian, sambil membuat catatan-catatan. Kadang-kadang Kartini menyebut salah satu karangan atau mengutip beberapa kalimat. Perhatiannya tidak hanya semata-mata soal emansipasi wanita, tapi juga masalah sosial umum. Kartini melihat perjuangan wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas. Di antara buku yang dibaca Kartini sebelum berumur 20, terdapat judul Max Havelaar dan Surat-Surat Cinta karya Multatuli, yang pada November 1901 sudah dibacanya dua kali. Lalu De Stille Kraacht (Kekuatan Gaib) karya Louis Coperus. Kemudian karya Van Eeden yang bermutu tinggi, karya Augusta de Witt yang sedang-sedang saja, roman-feminis karya Nyonya Goekoop de-Jong Van Beek dan sebuah roman anti-perang karangan Berta Von Suttner, Die Waffen Nieder (Letakkan Senjata). Semuanya berbahasa Belanda.</p>
	<p>Oleh orangtuanya, Kartini disuruh menikah dengan bupati Rembang, Raden Adipati Joyodiningrat, yang sudah pernah memiliki tiga istri. Kartini menikah pada tanggal 12 November 1903. Suaminya mengerti keinginan Kartini dan Kartini diberi kebebasan dan didukung mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.</p>
	<p>Anak pertama dan sekaligus terakhirnya, RM Soesalit, lahir pada tanggal 13 September 1904. Beberapa hari kemudian, 17 September 1904, Kartini meninggal pada usia 25 tahun. Kartini dimakamkan di Desa Bulu, Kecamatan Bulu, Rembang.</p>
	<p>Berkat kegigihannya Kartini, kemudian didirikan Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini di Semarang pada 1912, dan kemudian di Surabaya, Yogyakarta, Malang, Madiun, Cirebon dan daerah lainnya. Nama sekolah tersebut adalah &#8220;Sekolah Kartini&#8221;. Yayasan Kartini ini didirikan oleh keluarga Van Deventer, seorang tokoh Politik Etis.</p>
	<p>Presiden Soekarno mengeluarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia No.108 Tahun 1964, tanggal 2 Mei 1964, yang menetapkan Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional sekaligus menetapkan hari lahir Kartini, tanggal 21 April, untuk diperingati setiap tahun sebagai hari besar yang kemudian dikenal sebagai Hari Kartini.<br />
Surat-surat<br />
Setelah Kartini wafat, Mr. J.H. Abendanon mengumpulkan dan membukukan surat-surat yang pernah dikirimkan R.A Kartini pada para teman-temannya di Eropa. Abendanon saat itu menjabat sebagai Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan Hindia Belanda. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang. Buku kumpulan surat Kartini ini diterbitkan pada 1911. Buku ini dicetak sebanyak lima kali, dan pada cetakan terakhir terdapat tambahan surat Kartini. Dalam bahasa Inggris, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan oleh Agnes L. Symmers.</p>
	<p>Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda, dan pemikiran-pemikiran Kartini mulai mengubah pandangan masyarakat Belanda terhadap perempuan pribumi di Jawa. Pemikiran-pemikiran Kartini yang tertuang dalam surat-suratnya juga menjadi inspirasi bagi tokoh-tokoh kebangkitan nasional Indonesia.<br />
Pemikiran</p>
	<p>Kartini, Kardinah, Roekmini © Collectie KITLV, Leiden</p>
	<p>Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Dia ingin wanita memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Kartini menulis ide dan cita-citanya, seperti tertulis: Zelf-ontwikkeling dan Zelf-onderricht, Zelf- vertrouwen dan Zelf-werkzaamheid dan juga Solidariteit. Semua itu atas dasar Religieusiteit, Wijsheid en Schoonheid (yaitu Ketuhanan, Kebijaksanaan dan Keindahan), ditambah dengan Humanitarianisme (peri kemanusiaan) dan Nasionalisme (cinta tanah air).</p>
	<p>Surat-surat Kartini juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle &#8220;Stella&#8221; Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Ia menggambarkan penderitaan perempuan Jawa akibat kungkungan adat, yaitu tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.</p>
	<p>Pandangan-pandangan kritis lain yang diungkapkan Kartini dalam surat-suratnya adalah kritik terhadap agamanya. Ia mempertanyakan mengapa kitab suci harus dilafalkan dan dihafalkan tanpa diwajibkan untuk dipahami. Ia ungkapkan juga tentang pandangan: dunia akan lebih damai jika tidak ada agama yang sering menjadi alasan manusia untuk berselisih, terpisah, dan saling menyakiti. &#8220;&#8230;Agama harus menjaga kita daripada berbuat dosa, tetapi berapa banyaknya dosa diperbuat orang atas nama agama itu&#8230;&#8221;</p>
	<p>Kartini juga mempertanyakan tentang agama yang dijadikan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Bagi Kartini, lengkap sudah penderitaan perempuan Jawa yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan tersedia untuk dimadu pula. Pada bab awal ini.</p>
	<p>Surat-surat Kartini banyak mengungkap tentang kendala-kendala yang harus dihadapi ketika bercita-cita menjadi perempuan Jawa yang lebih maju. Meski memiliki seorang ayah yang tergolong maju karena telah menyekolahkan anak-anak perempuannya meski hanya sampai umur 12 tahun, tetap saja pintu untuk ke sana tertutup.</p>
	<p>Kartini sangat mencintai sang ayah. Namun ternyata, cinta kasih terhadap sang ayah tersebut juga pada akhirnya menjadi kendala besar dalam mewujudkan cita-cita. Sang ayah, dalam surat, juga diungkapkan begitu mengasihi Kartini. Ia disebutkan akhirnya mengizinkan Kartini untuk belajar menjadi guru di Betawi, meski sebelumnya tak mengizinkan Kartini untuk melanjutkan studi ke Belanda ataupun untuk masuk sekolah kedokteran di Betawi.</p>
	<p>Keinginan Kartini untuk melanjutkan studi-terutama ke Eropa memang diungkap dalam surat-surat. Beberapa sahabat penanya mendukung dan berupaya mewujudkan keinginan Kartini tersebut. Dan ketika akhirnya Kartini membatalkan keinginan yang hampir terwujud tersebut, terungkap adanya kekecewaan dari sahabat-sahabat penanya. Niat dan rencana untuk belajar ke Belanda tersebut akhirnya beralih ke Betawi saja setelah dinasihati oleh Nyonya Abendanon bahwa itulah yang terbaik bagi Kartini dan adiknya Rukmini.</p>
	<p>Kemudian, pada pertengahan tahun 1903 saat berusia sekitar 24 tahun, niatan untuk melanjutkan studi menjadi guru di Betawi pun pupus. Dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon, Kartini mengungkap tidak berniat lagi karena ia sudah akan menikah. &#8220;&#8230;Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin&#8230;&#8221; Padahal saat itu pihak departemen pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini dan Rukmini untuk belajar di Betawi.</p>
	<p>Pada saat menjelang pernikahan, terdapat perubahan penilaian Kartini soal adat Jawa. Ia menjadi lebih toleran. Ia menganggap pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah bagi perempuan bumiputra saja, tetapi juga disebutkan agar Kartini dapat menulis sebuah buku.<br />
Buku<br />
Habis Gelap Terbitlah Terang</p>
	<p>Pada 1922, oleh Empat Saudara, Door Duisternis Tot Licht disajikan dalam bahasa Melayu dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang; Boeah Pikiran. Buku ini diterbitkan oleh Balai Pustaka. Armijn Pane, salah seorang sastrawan pelopor Pujangga Baru, tercatat sebagai salah seorang penerjemah surat-surat Kartini ke dalam Habis Gelap Terbitlah Terang. Ia pun juga disebut-sebut sebagai Empat Saudara.</p>
	<p>Pada 1938, buku Habis Gelap Terbitlah Terang diterbitkan kembali dalam format yang berbeda dengan buku-buku terjemahan dari Door Duisternis Tot Licht. Buku terjemahan Armijn Pane ini dicetak sebanyak sebelas kali. Selain itu, surat-surat Kartini juga pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa dan bahasa Sunda. Armijn Pane menyajikan surat-surat Kartini dalam format berbeda dengan buku-buku sebelumnya. Ia membagi kumpulan surat-surat tersebut ke dalam lima bab pembahasan. Pembagian tersebut ia lakukan untuk menunjukkan adanya tahapan atau perubahan sikap dan pemikiran Kartini selama berkorespondensi. Pada buku versi baru tersebut, Armijn Pane juga menciutkan jumlah surat Kartini. Hanya terdapat 87 surat Kartini dalam &#8220;Habis Gelap Terbitlah Terang&#8221;. Penyebab tidak dimuatnya keseluruhan surat yang ada dalam buku acuan Door Duisternis Tot Licht, adalah terdapat kemiripan pada beberapa surat. Alasan lain adalah untuk menjaga jalan cerita agar menjadi seperti roman. Menurut Armijn Pane, surat-surat Kartini dapat dibaca sebagai sebuah roman kehidupan perempuan. Ini pula yang menjadi salah satu penjelasan mengapa surat-surat tersebut ia bagi ke dalam lima bab pembahasan.<br />
Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya</p>
	<p>Surat-surat Kartini juga diterjemahkan oleh Sulastin Sutrisno. Pada mulanya Sulastin menerjemahkan Door Duisternis Tot Licht di Universitas Leiden, Belanda, saat ia melanjutkan studi di bidang sastra tahun 1972. Salah seorang dosen pembimbing di Leiden meminta Sulastin untuk menerjemahkan buku kumpulan surat Kartini tersebut. Tujuan sang dosen adalah agar Sulastin bisa menguasai bahasa Belanda dengan cukup sempurna. Kemudian, pada 1979, sebuah buku berisi terjemahan Sulastin Sutrisno versi lengkap Door Duisternis Tot Licht pun terbit.</p>
	<p>Buku kumpulan surat versi Sulastin Sutrisno terbit dengan judul Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya. Menurut Sulastin, judul terjemahan seharusnya menurut bahasa Belanda adalah: &#8220;Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsa Jawa&#8221;. Sulastin menilai, meski tertulis Jawa, yang didamba sesungguhnya oleh Kartini adalah kemajuan seluruh bangsa Indonesia.</p>
	<p>Buku terjemahan Sulastin malah ingin menyajikan lengkap surat-surat Kartini yang ada pada Door Duisternis Tot Licht. Selain diterbitkan dalam Surat-surat Kartini, Renungan Tentang dan Untuk Bangsanya, terjemahan Sulastin Sutrisno juga dipakai dalam buku Kartini, Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan Suaminya.<br />
Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904</p>
	<p>Buku lain yang berisi terjemahan surat-surat Kartini adalah Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904. Penerjemahnya adalah Joost Coté. Ia tidak hanya menerjemahkan surat-surat yang ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Joost Coté juga menerjemahkan seluruh surat asli Kartini pada Nyonya Abendanon-Mandri hasil temuan terakhir. Pada buku terjemahan Joost Coté, bisa ditemukan surat-surat yang tergolong sensitif dan tidak ada dalam Door Duisternis Tot Licht versi Abendanon. Menurut Joost Coté, seluruh pergulatan Kartini dan penghalangan pada dirinya sudah saatnya untuk diungkap.</p>
	<p>Buku Letters from Kartini, An Indonesian Feminist 1900-1904 memuat 108 surat-surat Kartini kepada Nyonya Rosa Manuela Abendanon-Mandri dan suaminya JH Abendanon. Termasuk di dalamnya: 46 surat yang dibuat Rukmini, Kardinah, Kartinah, dan Soematrie.<br />
Panggil Aku Kartini Saja</p>
	<p>Selain berupa kumpulan surat, bacaan yang lebih memusatkan pada pemikiran Kartini juga diterbitkan. Salah satunya adalah Panggil Aku Kartini Saja karya Pramoedya Ananta Toer. Buku Panggil Aku Kartini Saja terlihat merupakan hasil dari pengumpulan data dari berbagai sumber oleh Pramoedya.<br />
Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya</p>
	<p>Akhir tahun 1987, Sulastin Sutrisno memberi gambaran baru tentang Kartini lewat buku Kartini Surat-surat kepada Ny RM Abendanon-Mandri dan suaminya. Gambaran sebelumnya lebih banyak dibentuk dari kumpulan surat yang ditulis untuk Abendanon, diterbitkan dalam Door Duisternis Tot Licht.</p>
	<p>Kartini dihadirkan sebagai pejuang emansipasi. Dalam kumpulan itu, surat-surat Kartini selalu dipotong bagian awal dan akhir. Padahal, bagian itu menunjukkan kemesraan Kartini kepada Abendanon. Banyak hal lain yang dimunculkan kembali oleh Sulastin Sutrisno.<br />
Aku Mau &#8230; Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903</p>
	<p>Sebuah buku kumpulan surat kepada Stella Zeehandelaar periode 1899-1903 diterbitkan untuk memperingati 100 tahun wafatnya. Isinya memperlihatkan wajah lain Kartini. Koleksi surat Kartini itu dikumpulkan Dr Joost Coté, diterjemahkan dengan judul Aku Mau &#8230; Feminisme dan Nasionalisme. Surat-surat Kartini kepada Stella Zeehandelaar 1899-1903.</p>
	<p>&#8220;Aku Mau &#8230;&#8221; adalah moto Kartini. Sepenggal ungkapan itu mewakili sosok yang selama ini tak pernah dilihat dan dijadikan bahan perbincangan. Kartini berbicara tentang banyak hal: sosial, budaya, agama, bahkan korupsi.</p>
	<p>Kontroversi<br />
Ada kalangan yang meragukan kebenaran surat-surat Kartini. Ada dugaan J.H. Abendanon, Menteri Kebudayaan, Agama, dan Kerajinan saat itu, merekayasa surat-surat Kartini. Kecurigaan ini timbul karena memang buku Kartini terbit saat pemerintahan kolonial Belanda menjalankan politik etis di Hindia Belanda, dan Abendanon termasuk yang berkepentingan dan mendukung politik etis. Hingga saat ini pun sebagian besar naskah asli surat tak diketahui keberadaannya. Menurut almarhum Sulastin Sutrisno, jejak keturunan J.H. Abendanon pun sukar untuk dilacak Pemerintah Belanda.</p>
	<p>Penetapan tanggal kelahiran Kartini sebagai hari besar juga agak diperdebatkan. Pihak yang tidak begitu menyetujui, mengusulkan agar tidak hanya merayakan Hari Kartini saja, namun merayakannya sekaligus dengan Hari Ibu pada tanggal 22 Desember. Alasan mereka adalah agar tidak pilih kasih dengan pahlawan-pahlawan wanita Indonesia lainnya, karena masih ada pahlawan wanita lain yang tidak kalah hebat dengan Kartini. Menurut mereka, wilayah perjuangan Kartini itu hanyalah di Jepara dan Rembang saja, Kartini juga tidak pernah memanggul senjata melawan penjajah. Dan berbagai alasan lainnya.<br />
Sedangkan mereka yang pro malah mengatakan Kartini tidak hanya seorang tokoh emansipasi wanita yang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia saja, melainkan adalah tokoh nasional artinya, dengan ide dan gagasan pembaruannya tersebut dia telah berjuang untuk kepentingan bangsanya. Cara pikirnya sudah melingkupi perjuangan nasional.<br />
Penghargaan Pemerintah Belanda<br />
Kartini di Belanda dijunjung tinggi sebagai pejuang emansipasi di Hindia-Belanda dulu sampai sekarang. Pemda Den Haag di tahun 2007 ini spesial menyediakan trophy Kartini untuk perorangan/organisasi di Den Haag yang berjuang dalam bidang emansipasi ala Kartini dulu. Kartini-Trophy tahun 2007 ini diberikan kepada wanita Maroko bernama Rahma El Hamdaoui yang berjuang membela emansipasi di sebuah kampung bernama Schilderswijk di Den Haag.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/25/kartini/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Petisi Anak Bangsa Menuntut Pembubaran IPDN</title>
		<link>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/17/petisi-anak-bangsa-menuntut-pembubaran-ipdn/</link>
		<comments>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/17/petisi-anak-bangsa-menuntut-pembubaran-ipdn/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Apr 2007 11:01:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>berita</category>
		<guid>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/17/petisi-anak-bangsa-menuntut-pembubaran-ipdn/</guid>
		<description><![CDATA[	To:  Yth Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono 
	PETISI ANAK BANGSA 
	(TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN) 
	1. Bubarkan IPDN. 
	2. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, tegakkan hukum tanpa basa basi. 
	3. Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN. Siswa yang masih tersisa saat ini diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>To:  Yth Presiden Indonesia, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono </p>
	<p>PETISI ANAK BANGSA </p>
	<p>(TUNTUTAN PEMBUBARAN IPDN) </p>
	<p>1. Bubarkan IPDN. </p>
	<p>2. Usut tuntas segala bentuk kekerasan di STPDN/IPDN sejak pertama berdiri, tegakkan hukum tanpa basa basi. </p>
	<p>3. Stop anggaran khusus dan ikatan dinas bagi siswa IPDN. Siswa yang masih tersisa saat ini diberi kesempatan melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi negeri di daerah asal masing-masing. </p>
	<p>4. Hapuskan segala bentuk kekerasan dan manipulasi dalam dunia pendidikan di Indonesia. </p>
	<p>DUKUNG PENDIDIKAN TANPA KEKERASAN DAN INTIMIDASI !!! </p>
	<p>Sincerely,
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/17/petisi-anak-bangsa-menuntut-pembubaran-ipdn/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Doa apabila ayam berkokok atau keledai meringkik</title>
		<link>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/doa-apabila-ayam-berkokok-atau-keledai-meringkik/</link>
		<comments>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/doa-apabila-ayam-berkokok-atau-keledai-meringkik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 11:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>islami</category>
		<guid>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/doa-apabila-ayam-berkokok-atau-keledai-meringkik/</guid>
		<description><![CDATA[	Jika kamu mendengar ayam jago berkokok, mintalah anugrah kepada Allah, sesungguhnya ia melihat malaikat.
Tapi apabila kamu mendengar suara keledai, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syetan, sesungguhnya ia melihat syetan.&#8217;
(HR. Bukhari dan Muslim 4/2092)
	‘Apabila kamu melihat anjing mengongong dan suara keledai di malam hari, mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya mereka melihat apa yang tidak kamu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Jika kamu mendengar ayam jago berkokok, mintalah anugrah kepada Allah, sesungguhnya ia melihat malaikat.<br />
Tapi apabila kamu mendengar suara keledai, mintalah perlindungan kepada Allah dari gangguan syetan, sesungguhnya ia melihat syetan.&#8217;<br />
(HR. Bukhari dan Muslim 4/2092)</p>
	<p>‘Apabila kamu melihat anjing mengongong dan suara keledai di malam hari, mintalah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya mereka melihat apa yang tidak kamu lihat.&#8217; (HR. Abu Dawud 4/327 dan Ahmad 3/306)</p>
	<p>Catatan:<br />
Kalimat meminta perlindungan kepada Allah yang paling mudah adalah kalimat Ta&#8217;awudz, yaitu: A&#8217;udzubillaahi minas syaithaanirrajiim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan syaitan yang terkutuk). </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/doa-apabila-ayam-berkokok-atau-keledai-meringkik/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika anak mogok sekolah</title>
		<link>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/ketika-anak-mogok-sekolah/</link>
		<comments>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/ketika-anak-mogok-sekolah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 00:20:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Lain Lain</category>
		<guid>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/ketika-anak-mogok-sekolah/</guid>
		<description><![CDATA[	Biasanya, sejak usia prasekolah, anak sudah merengek-rengek untuk sekolah, seperti kakak-kakaknya atau teman sekitarnya yang berusia di atasnya. Dunia sekolah dalam bayangannya amat menyenangkan. Dan memang benar. Di sekolah anak bisa bertemu dan mempunyai banyak teman, menemukan pengalaman yang tak pernah ia jumpai di rumah, dan juga bermain-main.
	Tapi itu tak lama. Ada saat-saat ketika anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Biasanya, sejak usia prasekolah, anak sudah merengek-rengek untuk sekolah, seperti kakak-kakaknya atau teman sekitarnya yang berusia di atasnya. Dunia sekolah dalam bayangannya amat menyenangkan. Dan memang benar. Di sekolah anak bisa bertemu dan mempunyai banyak teman, menemukan pengalaman yang tak pernah ia jumpai di rumah, dan juga bermain-main.</p>
	<p>Tapi itu tak lama. Ada saat-saat ketika anak kemudian jenuh, dan bahkan mogok sekolah. Bagaimana Anda menghadapinya?</p>
	<p>Hal wajar. Jika anak mulai ogah-ogahan bersekolah, Anda tak perlu keburu memarahainya. Selidiki apa penyebabnya. Ini adalah proses anak menemukan struktur dan arti kehidupan. Ia belajar arti kehidupan yang lebih luas dengan menemukan peraturan, regulasi, dan bagaimana sesuatu hal terjadi. Ketika anak makin besar, perilakunya menjadi lebih kompleks dan variatif, dan ia akan mulai menguji Anda untuk menemukan aturan-aturan yang telah Anda terapkan. Anak sedang mencoba melihat reaksi Anda atas apa yang ia lakukan. Jenis ketakpatuhan ini masih normal. Justru Anda harus merasa khawatir jika anak Anda patuh dan pasif. Perilaku itu memang menyenangkan Anda, tapi anak seperti ini akan mendapat sedikit kepuasan dari masa kanak-kanaknya.</p>
	<p>Perilaku, bukan anaknya. Bisa juga anak merasa jenuh. Berangkat tepat waktu, mengerjakan pekerjaan rumah, dan sebagainya. Ia ingin bebas, dan enggan ke sekolah, yang ditunjukkan dengan bermalas-malasan ketika diminta bangun, misalnya. Tunjukkan ketaksetujuan Anda terhadap perilakunya, bukan terhadap si anak. Betapa pun seriusnya kelakuan buruk si anak, Anda harus menjelaskan kepada anak bahwa yang tak Anda senangi adalah perilaku buruknya, bukan dirinya. Bukan pula orang tua menolak mereka. Jadi daripada berkata, &#8220;Dasar, anak bodoh!&#8221; (menunjukkan bahwa orang tua menolak anaknya), sebaiknya orang tua berkata, &#8220;Jangan bolos sekolah ya!&#8221;.</p>
	<p>Jangan menyuruh anak pergi sekolah dengan mengatakan, &#8220;Ibu/Ayah ingin kamu berangkat sekarang!&#8221; Ini bisa menciptakan konflik antara Anda dan anak. Strategi yang lebih baik adalah langsung menekankan peraturan secara impersonal. Misalnya, Anda bisa mengatakan, &#8220;Sekarang sudah jam 07.00 lho sayang. Waktu kamu untuk berangkat.&#8221; Dalam cara ini, setiap konflik atau perasaan marah yang terjadi pada diri anak hanya akan terjadi antara anak dengan &#8220;jam&#8221;-nya, bukan dengan orang tuanya.</p>
	<p>Ajarkan disiplin. Sekolah membutuhkan kedisiplinan. Selain di sekolah, Anda juga bisa mengajarkan disiplin di rumah. Kesibukan di rumah seperti membereskan kamarnya sendiri, meletakkan alat-alat permainan dan alat sekolahnya sendiri, merupakan aktivitas yang mengajarkan tata tertib dan disiplin. Ini perlu dilakukan dengan perjanjian antara orang tua dan anggota keluarga lainnya.</p>
	<p>Bisa juga energi anak yang besar diarahkan untuk aktivitas lain di luar rumah, seperti berenang atau mengikuti kelompok permainan atau ketrampilan (melukis, musik, dan sebagainya). Buatkan jadwal kapan ia harus berenang, melukis, bermain, dan sebagainya. Dengan begitu anak belajar bergaul dan dispilin.</p>
	<p>Anda juga perlu membuat aturan yang kosisten. Misalnya, hari ini anak disuruh tidur jam 20.00, begitu juga besok dan seterusnya. Ketakkonsistensian bisa mengundang ketakpatuhan dan hampir tak mungkin untuk mendisiplinkan anak. Anda harus memberikan pembenaran kenapa aturan itu dibuat. Bila anak mengerti pembenaran atas suatu peraturan, ia cenderung mematuhia daripada membangkangnya.</p>
	<p>Lenyapkan egosentris. Usia sekolah adalah masa egosentris mulai muncul. Anak merasa menjadi pusat perhatian, sehingga cenderung manja. Bila mempunyai benda-benda, ia secara tegas memisahkan miliknya dengan milik orang lain. Ia juga mulai memonopoli permainan. Ia belum memahami nilai benar dan salah, sehingga acap kali berbuat jahil. Jahil merupakan sesuatu yang wajar, karena perilaku itu merupakan bentuk komunikasi di antara anak, seperti juga berdebat atau berteriak.</p>
	<p>Bersikaplah santai, meski Anda juga perlu was-was dan memantau perkembangan perilaku anak. Karena ini bisa berlanjut ke usia selanjutnya jika ia tak diajarkan berbagi atau bertenggang rasa. Bagi anak, sekolah adalah merupakan masyarakat baru. Aturan yang berlaku di sekolah berbeda dari rumah. Butuh waktu untuk memahami tata cara atau norma yang berlaku di sekolah. Di sinilah peran Anda.</p>
	<p>Belajar pertemanan. Bagi anak, memiliki teman membuat kehidupannya berarti. Melalui sosialisasi, si kecil mempelajar nilai-nilai apa saja yang diterima kelompoknya. Ia mulai memiliki keinginan untuk menghabiskan waktunya dengan teman, berbagi, mengungkapkan perasaan, emosi, minat, dan bersenang-senang bersama. Menurut Watson dan Lindgren dalam bukunya Psychology of the Child and the Adolescent, anak berada pada tingkatan bermain kooperatif. Anda bisa membantu anak untuk membina dan menjaga hubungan dengan teman-temannya, dan mengajarinya cara berkerja sama dengan orang lain.</p>
	<p>Jika ia punya masalah dengan teman-temannya, berilah pemahaman mengenai pertemanan yang baik. Jika ia mogok sekolah karena jengkel dengan teman-temannya, tanyakan masalahnya. Mintalah ia untuk berbaikan atau meminta maaf jika salah. Jangan lupa menjelaskan letak kesalahannya. Ini juga berlaku bagi kesalahan yang tak disengaja. Sikap seperti ini harus dicontohkan oleh orang tua. Jika Anda melakukan kesalahan pada anak, Anda juga meminta maaf, sehingga anak terbiasa menghargai perasaan orang lain.</p>
	<p>Luangkan waktu. Perhatikan waktu Anda bersama anak. Sesibuk apapun Anda, misalnya Anda bekerja, anak butuh dorongan dan sentuhan seorang ibu. Ia belum bisa sepenuhnya dilepaskan, meski sudah bersekolah. Menurut penelitian yang dilakukan Michael Yogman MD, asisten profesor dan dokter anak di Tufts Medical School di Boston, anak membutuhkan sentuhan ibunya secara rutin setiap hari. Sentuhan ini akan membuat anak tenang, percaya diri, dan merasa dilindungi. Anak butuh kehadiran ibu pada saat-saat tertentu. Pelukan atau ciuman sebelum tidur, membacakan cerita, atau bahkan membuat pekerjaan rumah bersama ibu memberikan nuansa rasa yang sulit digantikan orang lain.
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/ketika-anak-mogok-sekolah/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
		<item>
		<title>Optimis mencari kerja</title>
		<link>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/optimis-mencari-kerja/</link>
		<comments>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/optimis-mencari-kerja/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 11 Apr 2007 00:17:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Administrator</dc:creator>
		
	<category>Lain Lain</category>
		<guid>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/optimis-mencari-kerja/</guid>
		<description><![CDATA[	Siapa bilang mencari pekerjaan itu gampang? Rasanya kalimat itu sering sekali diucapkan oleh semua orang dengan merujuk pada kenyataan sekarang ini. Namun tahukah Anda bahwa rasa frustrasi menunggu datangnya panggilan itu jauh lebih menyiksa? Menyebalkan, bahkan.
	Hal itu dikarenakan ketidakpastian yang melanda, yang membuat perasaan jadi tidak karuan. Memang banyak orang yang memilih untuk bersikap masa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[	<p>Siapa bilang mencari pekerjaan itu gampang? Rasanya kalimat itu sering sekali diucapkan oleh semua orang dengan merujuk pada kenyataan sekarang ini. Namun tahukah Anda bahwa rasa frustrasi menunggu datangnya panggilan itu jauh lebih menyiksa? Menyebalkan, bahkan.</p>
	<p>Hal itu dikarenakan ketidakpastian yang melanda, yang membuat perasaan jadi tidak karuan. Memang banyak orang yang memilih untuk bersikap masa bodoh dan cuek, namun berapa lama sih hal itu bisa bertahan, apalagi kalau panggilan itu tidak kunjung datang? </p>
	<p>Jangan remehkan rasa frustrasi ini, karena efeknya bisa panjang. Bisa-bisa saat Anda benar-benar mendapat panggilan, lamaran Anda ditolak hanya karena pembawaan atau raut muka Anda yang kusut sebagai efek lanjutan dari rasa kesal tersebut. Mempertahankan keyakinan dan motivasi memang sangat vital dalam fase ini, namun dengan kiat-kiat berikut, pertahankan pemikiran positif Anda.</p>
	<p>Rajin-rajinlah ngobrol dengan teman. Akan lebih baik bila dalam situasi sulit seperti ini, Anda mempunyai seorang teman sebagai tempat curhat. Ingat-ingatlah saran-saran yang diberikannya, siapa tahu bermanfaat bagi Anda. Atur waktu teratur untuk bertemu dan berdiskusi, semakin banyak masukan yang diberikan semakin baik bagi Anda. </p>
	<p>Buat catatan. Tetaplah hidup teratur dengan menyimpan catatan-catatan tentang nomor telepon atau kapan dan kemana saja kita mengirim lamaran pekerjaan. Dengan mencatat hal-hal kecil namun penting tersebut, akan lebih mudah saat melakukan follow-up.</p>
	<p>Bagi waktu dengan baik. Atur dan tentukan berapa lama waktu yang akan dihabiskan untuk membuat surat lamaran yang akan dikirimkan, melakukan riset pasar melalui website atau hal-hal lain yang menyangkut lamaran pekerjaan. Dengan begitu, kita tidak berharap terlalu banyak atau merasa kecewa saat tidak mampu menyelesaikan apa yang telah ditargetkan tepat pada waktunya.</p>
	<p>Tentukan tujuan. Motivasi adalah hal yang paling penting dalam mempertahankan harapan dan tidak putus asa, jadi jangan buat target yang terlalu muluk-muluk. Tetaplah realistis dan berusahalah untuk dapat konsisten menjalankannya. Sebagai contoh, jangan sampai Anda berencana untuk melakukan puluhan kali telepon dalam satu hari &#8212; Anda hanya akan menjadi depresi bila target tersebut tidak tercapai. </p>
	<p>Perkuat keyakinan diri. jangan biarkan diri Anda larut dalam frustrasi berkepanjangan! Bila Anda memerlukan peralatan kosmetik baru (parfum atau lipstick misalnya), makan dessert yang enak, atau melakukan massage hanya supaya Anda merasa lebih baik, lakukan saja. Lakukan apapun yang bisa membuat perasaan Anda lebih baik, sejauh hal itu tidak merugikan diri sendiri atau orang lain. Dengan begitu, saat dipanggil untuk wawancara Anda dapat tampil lebih percaya diri dan tenang. </p>
	<p>Kumpul dengan teman-teman. Sediakan waktu misalnya sekali dalam seminggu atau sebulan untuk berkumpul dengan teman-teman Anda (yang mungkin senasib), tanya perkembangan masing-masing termasuk menjelaskan tentang perkembangan Anda sendiri. Usahakan agar suasana berlangsung santai dan tidak mengeluarkan banyak uang. Ingatlah bahwa tidak ada orang yang berusaha mencari lowongan selama 24 jam, jadi tetaplah bergaul!
</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aglocoindonesia.blogsome.com/2007/04/11/optimis-mencari-kerja/feed/</wfw:commentRss>
	</item>
	</channel>
</rss>
